Rabu, 10 Juni 2009

puisi

Oleh: Sahibatul Fatmah dan Seri Astuti


WAJAH DI BALIK JENDELA

Aneh sudah seminggu lebih gadis itu tidak lagi kulihat di tempat biasanya, di jendela sebuah rumah mungil yang tepat berhadapan di jendela kamar kosku. Biasanya sore-sore begini dia sudah bertengger di sana. Termangu memandang senja. Kadangkala ia mengelus-elus seekor kucing putih. Atau memandangi kupu-kupu yang hinggap dari satu bunga ke bunga lain di taman rumahnya. Biasanya sehabis mandi sore aku sempatkan menengok gadis manis itu.
Jendela kamar kosku dan kamarnya hanya dibatasi seruas jalan aspal yang jarang dilewati kendaraan. Sekali-sekali kulemparkan senyum ke arahnya. Sekedar mencoba keberanian. Dia bukan gadis sombong, itu kesimpulanku. Buktinya dia selalu membalas senyumku dengan senyumannya yang sangat menawan. Saying, Cuma itu yang bisa dikenang untuk sementara ini.
Sebenarnya sampai saat ini aku tidak pernah tahu siapa namanya, asal-usulnya, keluarganya, atau segala sesuatu tentang gadis itu. Aku tidak berusaha mencari info lebih banyak, pada ibu kos misalnya. Atau pada tetangga sekitar rumah. Tapi aku merasa sudah kenal akrab dengan gadis manis itu walau hanya lewat senyuman. Ya, senyum manis yang biasa kunikmati di sore hari. Bukan teh atau secangkir kopi yang lazim dinikmati orang lain sewaktu santai di beranda rumahnya sore-sore.
Sekarang jendela itu tertutup rapat. Tidak lagi kujumpai si gadis manis, gadis misterius itu. Heran, sudah beberapa hari ini benakku bertanya-tanya. Kemana gadis itu? Sakitkah? Pindah kamar? Atau sudah bosan memandang senja? Entahlah. Yang pasti sekarang aku jadi kangen pada senyum menawannya. Kemaren malam sebelum berangkat tidur, kusempatkan lagi menengok jendela itu. Tetap sama. Jendela itu masih tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Sekelilingnya gelap gulita. Aneh, aku jadi ingat obrolan dengan Alfi di kantin kampus beberapa hari lalu. “itulah namanya cinta, Bi,”kata Alfi sok bijak.
“Gadis itu sudah memberi kesan yang dalam buatmu, anak muda. Terimalah kenyataan bahwa hatimu sedang dipermainkan oleh seorang gadis. Makhluk yang selalu ada di jendela kamarnya sore-sore, ha . .. ha . . .”semburan teh es dari sedotan teh es dari sedotanku setidaknya mampu menghentikan tawa ngakak Alfi waktu itu. “tidak ini bukan cinta Fi.” Malamnya kubahas lagi masalahku bersama Alfi. Kebetulan aku menginap di rumahnya. Ada tugas sekolah yang tidak bisa kuselesaikan. Alfi adalah tempat yang cukup bagus untuk dimintai pertolongan. Alfi tidak mempedulikan omonganku. Dia terlalu asyik dengan program game di kompoternya. Tapi terus saja mulutku bercerita. “aku merasa gadis itu punya pesona yang membuatku sampai kayak gini.”
Alfi berpaling padaku. “mungkin itu Cuma pikiran kamu saja, Bi. Kamu merasa begitu karena saat itu kamu tidak punya cewek. Aya, kan?!” seakan tanpa dosa Alfi memojokkanku. Kemudian tangan kanannya menekan tombol power, mematikan computer. “bayangkan, bahkan nama gadis itupun kamu tidak tahu. Bodoh, kan?!” Alfi langsung melempar badannya ke ranjang.
Aku masih diam di kursi, pikiranku menerawang, teringat pada Ervi gadis manis di Barabai yang setia menungguku pulang. Aku memang tidak pernah bercerita tentang Ervi pada siapapun di sini. Ah, aku jadi sentimental dan mereka-reka, sedang apa dia malam ini.
Minggu pagi. Setelah meminjam sepeda milik Dicky, anak ibu kos, aku berkeliling kompleks perumahan. Aku jadi tertawa geli mengingat obrolan dengan ibu kos sebelum berangkat tadi. Dia heran melihat perubahan drastic pada diriku. “tumben-tumbennya hari Minggu pagi sudah bangun,” katanya. Malah mau berolahraga lagi. Satu hal yang teramat jarang kulakukan sebelumnya. Biasanya hari libur, selalu kuhabiskan dengan tidur nyenyak sampai siang hari. Ibu kos tidak tahu bahwa tujuanku pagi ini adalah melihat-lihat keadaan rumah gadis misterius itu.
Setelah berputar-putar keliling kompleks, kuputuskan untuk beristirahat di taman. Duduk di salah satu bangku kayu. Kuamati suasana sekitarku. Banyak orang yang berolahraga di tempat itu,. Ada yang senam pagi, olahraga ringan, atau sekedar berjalan-jalan. Jam besar di tengah taman menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. “masih banyak waktu,” pikirku.
Dari bangku ini, bagian depan rumah gadis itu tampak kelihatan jelas. Hanya beberapa puluh meter dari tempatku duduk. Sebuah rumah besar berpagar putih. Aneka bunga memenuhi halamannya. Asri sekali dipandang dari tempat ini. Sebuah sedan hitam diparkir di luar garasi. Sedikit lega htiku. Berarti masih ada kehidupan di dalam rumah itu. Tiba-tiba kulihat pintu terkuak. Darahku berdesir pelan. Penasaran ingin melihat siapa yang keluar dari rumah itu. “mudah-mudahan si gadis misterius,” harapku sangsi.
Ah, ternyata seorang ibu tua. Dari potongan tubuhnya, barangkali dia pembantu rumh itu. Atau, bisa jadi nenek si gadis itu. Entahlah, tapi kenap pndangan ibu tua it uterus memperhatikan ke arah taman ini? Aku kikuk dibuatnya. Jangan-jangan ibu tua itu tahu dan merasa curiga sedang kuperhatikan. Pura-pura aku menyibukkan diri, seolah sedang memperbaiki sepeda.
Lega rasanya ketika ibu tua itu tidak lagi berdiri di beranda. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke tempat kos. Setidaknya bersepeda pagi ini membawa hasil juga. “rumah itu ternyata masih berpenghuni,” pikirku. Meski, gadis misterius itu tidak kulihat disana.
Minggu siang jika tidak ada aktivitas, selalu kuhabiskan dengan mengurung diri di kamar. Membolak-balik Koran dan majalah yang itu-itu saja. Atau mendengarkan lagu di radio. Maklum, sebagai anak kos aku harus bisa menggunakan uang kiriman orang tua seirit mungkin. Beruntung kalau kebetulan ada teman-teman datang dan mengajak pergi keluar. Tapi, Minggu ini tak satupun batang hidung teman-teman yang tampak. Sesudah mandi dan bersih-bersih kamar aku menuju meja makan. Rasa lapar sudah tak bisa di ajak berunding. Ibu kos memang tipikal ibu rumah tangga yangpintar masak. Aku selalu betah makan di rumah ini. Sekalian menghemat uang.
Sambil menikmati hidangan di meja makan, kupingku mendengar percakapan ibu kos dengan seorang tamunya. Kedengarannya akrab sekali mereka mengobrol.iseng-iseng sambil mengambil air minumdari kulkas, kuintip keadaan di ruang tamu. Hamper saja aku tersedak melihat tamu ibu kos. Ibu tua itu ada di sana. Ibu tua yang memperhatikanku di taman pagi tadi. Ibu tua yang tinggal di rumah gadis misterius itu. “ngapain dia disini? Ada urusan apa dengan ibu kos?” selera makanku surut. Nasi di piring yang tinggal sedikit tak lagi kuhiraukan. Aku jadi diliputi penasaran. Setelah merapikan meja makan dan menyeduh kopi susu, kutinggalkan ruang makan. Dari kamar tidur,ku, obrolan mereka tidak terdengar lagi. Ku setel radio ku, lagu yang kusukai mengalun. Cukup lama lamunanku melayang ketika tiba-tiba pintu kamar diketuk. “masuk,” sahutku.
Rupanya ibu kos, dia tersenyum ramah. Tangan kanannya membawa sebuah rantang, meletakkannya di mejaku sambil berkata, “ini bubur kacang hijau buatmu. Dari Erma, gadis tetangga di depan rumah. Barusan, mbok Sumi, pembantunya mengantar kemari.”
Aku bengong, “namanya Erma,” kataku dalam hati. Akhirnya kudapat juga namanya, nama yang bagus. Dan, ibu tua itu ternyata pembantunya.
“tapi, bu. Saya tidak kenal sama gadis itu.,” aku pura-pura mengelak. Ibu kos tersenyum lagi. Pandangannya lalu menatap keluar jendela. Memperhatikan jendela kamar Erma. Aku jadi malu, ibu kos pasti tahu aku berbohong. “Erma gadis yang baik lho, Bi.” Ibu kos berkata ramah sambil membersihkan debu-debu yang melekat di jendela.
“kenapa dia tidak mengantar bubur ini sendiri, bu?” selidikku lagi. Ibu kos lama terdiam. Kuperhatikan roman wajahnya. Ada perubahan kecil di sana. Tak lama kemudian, ibu kos keluar kamar.dia berbalik menatapku, “jangan kecewakan Erma ya, Bi.” Begitu saja. Lalu pintu kamar ditutup. Aku melongo. Apa maksud kalimat barusan? Jangan kecewakan Erma? Memangnya ada apa antara aku dan dia? Kenapa jadi begini?
Senin siang, sebenarnya masih ada mata kuliah di kampus. Tapi rasa letih lebih dominant di tubuhku. Sepanjang perjalanan pulang, kubayangkan bisa tidur pulas di kamar. Dari gerbang masuk kompleks perumahan kulanjutkan dengan berjalan kaki. Kutolak halus beberapa tawaran tukang becak. Jarak gerbang perumahan dengan tempat kosku tidak terlalu jauh. Mendadak sebuah benda melayang jatuh di dekatku, kuamati benda itu. Sebuah potongan apel. Siapa yang iseng siang-siang begini? Pandanganku beredar mencari sumber datangnya apel tadi. Sepi, tiba-tiba terdengar tawa tertahan dari arah jendela itu. Kudongakkan kepala, gadis itu di sana lagi. Gadis misterius yang membuatku penasaran. Dia sedang menertawaiku. Aku tersenyum dipaksakan ada rasa malu, senang, juga gerutu dalam hati. Timbul nyaliku untuk mengobrol dengan gadis, kudekati jendelanya.
“terima kasih ya, atas pemberian bubur kacang hijau kemaren. Rasanya enak.” Kalimat dadakan yang tak sempat diprogram sebelumnya mengalir dari mulutku. Dia membalas dengan senyumnya. Aku merasa di atas angin, “kesempatan itu datang juga,” pikirku. “kamu kok, jarang keluar rumah?” tanyaku lagi. Tiba-tiba mendung menggayut di wajahnya. Ah, apa aku salah ngomong? Rasanya tidak, kucoba lagi meneruskan percakapan dengan si gadis misterius. Imana kalau nanti sore kita bertemu. Di taman saja ya?! Jangan di tempat lain, uang kirimanku belum datang.” Kataku dengan nada bergurau.
Dia tersenyum lagi, manis sekali. “Oke, nanti sore di taman. Tapi jangan kaget melihatku ya?” lalu gadis itu menghilang dari jendela. Dibiarkannya aku yang terbengong-bengong sendirian.
Pukul setengah lima sore, cuaca teduh. Semilir angina berhembus sepoi-sepoi. Aku duduk santai di bangku taman. Hanya beberapa orang di taman ini. Kebanyakan anak kecil yang sedang dimomong baby sitter. Kemana Erma?
“Sore-sore begini tidak enak melamun.” Mendadak sebuah suara dari arah belakang mengejutkanku. Betapa lebih kaget lagi ketika kulihat kebelakang. Kedua tangan Erma susah payah mendorong kursi roda, berusaha mendekat ke arahku. Beberapa saat lamanya aku termangu. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa Erma, gadis mesterius itu, adalah seorang gadis cacat. “Bantu aku, dong. Jangan bengong begitu!”
Buru-buru kusingkirkan gugup dimukaku. Kubantu mendorong kursi roda Erma. Dia tersenyum ramah, mengucapkan terima kasih. Kini kami sudah duduk bersebelahan, aku tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“aku tahu apa yang ada dipikiranmu, sama seperti yang lainnya. Pertanyaan klise, kenapa aku bisa ada di kursi roda ini ya, kan?!”katanya tiba-tiba. Matanya tajam menyelidik ke arahku, aku diam saja. Memang ada benarnya ucapan Erma barusan.
“Tidak usah cerita masa lalu, kalau itu sampai mengganggu batinmu,” jawabku pelan. Dia tersenyum lagi. Senyum manis yang biasanya hanya kulihat lewat jendela kamar, sekarang ada beberapa puluh senti saja dihadapanku.
“Tidak apa-apa, aku sudah biasa menghadapi situasi begini. Dua tahun lalu, aku sudah diizinkan membawa mobil sendiri. Waktu itu aku baru kuliah semester pertama. Setelah bergaul sana-sini, akhirnya aku tercebur dalam dunia yang tidak pernah ada dalam benakku sebelumnya . . . “ cerita masa lalu Erma terpotong beberapa saat. Dia kegirangan melihat sepasang kupu-kupu yang terbang di atas kembang sepatu di taman ini. “sampai akhirnya, aku mengalami kecelakaan. Pulang pesta larut malam, aku ngantuk berat. Di jalan aku tidak konsen lagi bawa mobil. Sadar-sadar aku sudah ada di rumah sakit. Kata orangtuaku, mobilku hancur menabrak pohon pemisah jalur. Hasilnya? Ya, seperti yang kamu lihat saat ini.” Biasa saja Erma bercerita tentang masa lalunya. Tak ada kesan sedih dalam suaranya. Aku jadi bertanya dalam hati, ada diurutan berapakah aku, dari sekian banyak orang yang sudah mendengar cerita Erma tentang dirinya.
“Bagaimana kuliahmu selanjutnya?” tanyaku. “setelah kejadian itu, aku menghabiskan waktu di rumah saja. Kuliah berhenti total. Teman-teman yang dulu dekat denganku, mulai menjauh. Pada saat-saat seperti itulah kita jadi bisa menilai seberapa besar persahabatan bagi seseorang.” Aku melengos malu. Kalimat Erma seperti ditujukan pada diriku juga. Memang dalam pergaulan selama ini, aku memilih teman hanya berpatokan pada beberapa alasan. Kebanyakan yang lebih menguntungkan pada diriku sendiri saja.
Beberapa lama kami terdiam, hanya sesekali obrolan ringan keluar dari mulut kami. “Abi . . .” kalimat Erma menggantung. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang sesuatu untuk diucapkan. Mmmm, barangkali kamu juga sama seperti mereka yang lain. Setelah melihat keadaanku seperti ini, seolah tidak lagi mengenal yang namanya Erma. Tapi, tidak apa-apa kok. Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.” Aku tidak sama seperti teman-temanmu yang lain. Kali ini kamu mesti percaya sama aku dan kita bersahabat,detik ini juga.
Dengan bersemangat aku bangkit dari bangku taman,langsung menuju kursi roda Erma. Dan mendorong perlahan-lahan mengelilingi taman sambil berbincang-bincang. Setidaknya,ada sedikit perubahan yang harus kumulai setelah mengenal Erma.
Kulihat senyum tersungging dibibirnya.Lebih manis senyum-senyum sebelumnya. Aku merasa beruntung sekali,dapat menjadi teman Erma. Seorang teman yang tidak menilai untung rugi dalam bersahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar